Kita sudah ada di Revolusi Industri Keempat, atau apa yang disebut oleh World Economic Forum sebagai “perpaduan teknologi yang mengaburkan batas antara bidang fisik, digital, dan biologis.” Salah satu aspeknya adalah, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence – AI), yang siap mengubah hidup kita secara dramatis . Lebih baik atau lebih buruk.

Dalam pencarian bahan untuk menyusun tulisan ini, saya menemukan eksplorasi yang dilakukan oleh Rob Girling (co-founder dan CEO bersama dari Artefact) dalam menemukan apa dampak AI pada kita sebagai manusia dan sebagai desainer. Tulisan ini merupakan bagian pertama dari 3 tulisan yang sengaja dibuat berseri agar lebih mudah untuk mengikutinya.

AI: Apakah robot akan mengambil pekerjaan kita?

Itu sudah terjadi, AI sudah ada di sekitar kita, dari mobil dan drone tanpa supir hingga asisten virtual dan perangkat lunak yang menerjemahkan atau dapat berinvestasi. Tetapi pada tingkat teknologi, AI dan robotika sedang mengalami kemajuan, sangat mungkin bahwa dalam 10 hingga 15 tahun, hampir setengah dari pekerjaan yang kita ketahui saat ini dan puluhan juta pekerjaan lainnya akan digantikan oleh sistem otomatisasi. Bagian besar dari pekerjaan yang paling berisiko dalam waktu dekat adalah dalam pekerjaan yang bersifat layanan, yang telah menyumbang sebagian besar pertumbuhan pekerjaan di Amerika Serikat selama dekade terakhir, dan yang diperkirakan terdiri 96% dari pertumbuhan pekerjaan pada dekade berikutnya.

Untuk 2,1 juta karyawan di Walmart, dan jutaan lainnya, berapa lama sebelum semua pekerjaan perbaikan rak dan membantu pelanggan digantikan oleh robot seperti robot-robot yang ditawarkan oleh Lowes? Berapa lama sebelum pekerjaan makanan cepat saji digantikan sistem seperti yang bisa menyiapkan burger buatan Momentum Machine? Jauh dari pertanyaan retoris, kami hanya berjarak beberapa tahun lagi untuk memiliki sistem AI yang menangani tugas-tugas seperti ini dengan lebih efisien, lebih produktif, dan lebih murah daripada menggunakan tenaka manusia. Sementara AI akan menjadi sesuatu yang biasa, orang akan menjadi tergantikan. Dan itulah masalahnya.

AI menyebabkan pengangguran: Kekeliruan kaum Luddite atau bahaya nyata?

Sepanjang sejarah, pada awal setiap era teknologi baru, ada banyak yang berspekulasi dan khawatir tentang redundansi manusia yang akan terjadi. Namun, analisis yang dilakukan oleh para ekonom telah menunjukkan bahwa apa yang sebenarnya terjadi adalah penciptaan jenis pekerjaan yang sama sekali baru dan jutaan pekerjaan baru. Para ekonom menjuluki kegelisahan ini dengan istilah “kekeliruan kaum Luddite,” setelah pemberontakan Luddite yang gagal di Inggris abad ke-19, di mana para pengrajin yang takut kehilangan pekerjaan mereka, melakukan pengrusakan.

Namun banyak ahli teknologi berspekulasi bahwa kali ini dengan AI itu hal yang berbeda. Revolusi teknologi sebelumnya sebagian besar terbatas hanya pada mekanisasi tugas manual. Sebagai perbandingan, AI telah mulai menggantikan tidak hanya pekerjaan fisik tetapi semakin beragam tugas kognitif, yang sampai sekarang tetap secara eksklusif masih masuk dalam domain manusia. Sistem AI saat ini menjadi mampu tidak hanya melakukan pekerjaan manual dengan keterampilan yang relatif rendah, seperti mengemudi atau memindahkan inventaris di gudang, tetapi juga melampaui batas-batas pekerjaan kognitif, seperti perdagangan di pasar keuangan, menilai kemungkinan memenangkan kasus hukum, otomatisasi jurnalisme, dan melakukan pekerjaan diagnostik medis yang lebih baik daripada manusia.

Beberapa berpendapat bahwa dampak otomatisasi sudah terlihat dan ada dalam data ekonomi sejak pergantian milenium. Namun, sulit untuk membuktikan secara definitif jika pergantian teknologi manusia sudah terjadi. Kasus uji paling jelas untuk era baru ini adalah mobil self-driving, yang kemungkinan baru akan diadopsi selama beberapa tahun ke depan. Jika armada taksi listrik cerdas, dalam jumlah besar yang dikelola secara terpusat, dan murah tersedia dengan segera, tidak akan lama kemudian orang mulai mempertanyakan perlunya kepemilikan mobil. Ini tidak hanya akan menggusur jutaan pekerjaan pengemudi profesional, tetapi juga pekerjaan di industri pendukung sekitarnya, mulai dari pemeliharaan mobil hingga dealer mobil, pompa bensin, perusahaan asuransi, dan sebagainya.

Perpindahan steroid

Yang memperparah potensi dampak pengangguran dari otomatisasi ini adalah tingkat pertumbuhan teknologi dan penurunan harga. Ini adalah hasil tidak hanya dari hukum Moore (Moore’s law) dan peningkatan serupa pada teknologi, tetapi juga karena seluruh sistem jaringan dapat secara langsung mendapatkan manfaat dari setiap peningkatan tersebut. Sebagai contoh, peningkatan perangkat lunak pada mobil menguntungkan seluruh armada secara instan. Selain itu, kumpulan data pada skala armada memungkinkan untuk peningkatan dan pengoptimalan secara real-time.

Sementara saya yakin bahwa para wirausahawan akan menciptakan pekerjaan baru yang belum dapat kita pahami, sulit membayangkan penciptaan seluruh pekerjaan dan industri baru yang akan memungkinkan kita, dalam satu generasi, untuk dapat mengimbangi laju perpindahan pekerjaan. Sebagai contoh dalam otomotif, perkiraan yang didapat sangat bervariasi, tetapi beberapa berspekulasi menyebutkan bahwa sebanyak 8 hingga 10 juta pekerjaan akan dihilangkan dalam 10 hingga 15 tahun.

Pekerjaan: Sebuah kelangkaan ekonomi?

Dampak pengangguran diperparah oleh faktor-faktor lain di luar teknologi otomasi. “Superstar Effect” yang dalam hal ini dapat ditunjukkan pada kecenderungan perusahaan digital papan atas yang mendominasi kategori pasarnya masing-masing, adalah salah satu yang mewakili faktor tersebut. Di zaman internet, di mana gesekan seperti skalabilitas dan ketersediaan itu tidak ada, keuntungan pihak yang menjadi penggerak pertama diterjemahkan ke dalam dominasi langsung dalam semalam. Akibatnya, para pemimpin pasar mengalami keuntungan yang menjadi dampak the-winner-take-it-all, karena konsumen tidak memiliki alasan atau insentif untuk memilih orang lain. Lihat saja Google, yang mendominasi lebih dari 76% dari semua pencarian online; Apple iTunes, yang menawarkan 64% dari unduhan musik digital berbayar; dan Amazon, yang pada Prime Day tahun ini, memiliki 74% dari semua e-commerce yang ada di Amerika Serikat saja.

Superstar Effect ini diterjemahkan dengan lebih sedikitnya kompetisi dan semakin meningkatnya penekanan pada pekerjaan teknologi. Namun, dibandingkan dengan era teknologi sebelumnya, saat ini relatif sedikit orang yang dipekerjakan di sektor teknologi. Contoh ekstrem adalah perusahaan teknologi terkemuka Kodak, yang pada masa kejayaannya dulu pernah mempekerjakan 140.000 orang. Sebagai perbandingan, ketika Instagram diakuisisi oleh Facebook pada 2013, ia hanya mempekerjakan 13 orang.

Merancang masa depan

World Economic Forum menyatakan bahwa “[kemungkinan] miliaran orang yang terhubung oleh perangkat mobile, dengan kekuatan pemrosesan yang belum pernah terjadi sebelumnya, kapasitas penyimpanan, dan akses ke pengetahuan, menjadi tidak terbatas”. Namun selain itu mereka juga mengakui bahwa potensi sisi gelap dari Revolusi Industri Keempat ini adalah tumbuh dengan ketimpangan, didorong oleh otomatisasi dan perpindahan pekerjaan.

Dua pertanyaan yang sangat menantang muncul. Yang pertama adalah: Bagaimana kita melatih ulang tenaga kerja yang secara persentase cukup signifikan untuk pekerjaan yang lebih tahan terhadap otomatisasi teknologi dan apa karakteristik dari pekerjaan yang tahan terhadap otomatisasi ini?

Yang kedua akan menjadi tantangan yang terus berulang yang harus kita hadapi lebih sering karena perubahan terus meningkat: Untuk berapa lama kita dapat tetap berada di depan kemampuan sistem otomasi yang berakselerasi secara bertahap?

Memikirkan hasil jangka panjang dan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini akan menjadi sangat penting, bahkan ketika kita semua terlibat dan ikut pusing dalam mendesain Alexa berikutnya, Siri berikutnya, atau mobil self-driving berikutnya.

Photo by Rock’n Roll Monkey on Unsplash