Para pemimpin bisnis saat ini menghadapi jalan yang sangat tidak pasti di depan mata. Saat bisnis, termasuk bisnis saya sendiri, memetakan jalur baru ke depan, kita semua perlu menerapkan pemikiran kreatif (creative thinking) di setiap kesempatan yang coba dilakukan, mulai dari memikirkan ulang model bisnis, memeriksa ulang pengalaman pelanggan, hingga mengembangkan produk baru.
Fakta menunjukkan bahwa kita sudah tahu bahwa perusahaan yang menyemai kreativitas akan menuai keuntungan yang signifikan, mulai dari pertumbuhan pendapatan, pangsa pasar yang lebih besar, hingga kepemimpinan yang lebih kuat. Selama resesi dan kemerosotan ekonomi, 14 persen perusahaan unggul baik secara historis maupun kompetitif karena mereka berinvestasi dalam keterampilan yang memberi ruang untuk ide dan inovasi.
Tak perlu dikatakan bahwa bakat kreatif sangat dicari. Tetapi apa yang gagal dilihat oleh sebagian besar pemimpin perusahaan adalah jawaban atas “kekosongan kreativitas” ini ada tepat di depan mereka. Dalam kelompok karyawan yang ada, mereka sudah memiliki sekelompok orang dengan kemampuan kreatif, mereka hanya perlu menemukan cara untuk memanfaatkan dan memperkuat keterampilan tersebut.
Banyak pemimpin bisnis yang tidak berasal dari latar belakang kreatif seperti seniman atau desainer profesional. Namun mereka harus mampu berpikir di luar kotak agar berhasil membangun perusahaan, tim, dan produk. Mereka mungkin harus bekerja sedikit lebih keras untuk mendapatkan percikan kreatif daripada yang lain, tetapi percayalah percikan itu selalu ada.
Para pemimpin perlu menemukan dan memanfaatkan kreativitas yang ada di seluruh tenaga kerja agar dapat berkembang ke langkah selanjutnya. Di sinilah kita bisa mulai.
Perluas definisi kreatif
Para pemimpin bisnis perlu mengevaluasi kembali perspektif mereka sendiri tentang apa artinya menjadi kreatif agar berhasil mendorongnya di tempat kerja. Kesalahpahaman tentang arti dan bentuk dari kreativitas terlalu umum dan seringkali menghalangi untuk menyadari bahwa sebenarnya bakat dan kemampuan kreatif sudah ada dalam tim. Anda tidak perlu menjadi pematung atau desainer untuk dianggap kreatif. Kreativitas pada intinya adalah bagian dari menjadi manusia, dengan kata lain kreativitas itu universal. Cara kita menggunakan imajinasi, berbagi ide, dan menafsirkan dunia di sekitar kita sepenuhnya bersifat pribadi.
Bagian yang terbesar untuk menghadapi praduga ini adalah merangkul apa yang diwakili oleh kreativitas dalam segala bentuknya, meninggalkan tujuan organisasi di depan pintu dan mengakui bahwa kreativitas tidak selalu dapat diukur dalam besaran mata uang atau KPI. Memberdayakan karyawan untuk menggunakan kemampuan kreatif mereka membutuhkan pemimpin yang dapat mengikuti jalannya kreativitas itu juga. Saya tidak mengatakan bahwa Anda perlu membuat produk atau proses baru yang revolusioner. Menunjukkan bahwa Anda merangkul kreativitas itu bisa terjadi dengan cara-cara kecil. Ini bisa terlihat seperti menjalankan dari waktu ke waktu untuk membuatnya secara teratur, baik itu proyek desain terkait pekerjaan atau merenovasi rumah Anda, dan berbagi proses dan pengalaman dengan tim yang lebih luas. Kalau saya, yang saya lakukan adalah bermain musik, membuat sketsa-sketsa, fotografi dan berkebun. Meskipun semua aktivitas ini terjadi di luar pekerjaan, mereka mempertajam kemampuan kreatif saya, membawa perspektif baru ke dalam pekerjaan dan membangun kreativitas ke dalam jalinan kami.
Membangun budaya yang menjunjung kreativitas
Sementara kreativitas terjadi pada tingkat individu, minat kreatif secara kolektif membawa kita bersama-sama dalam cara yang sangat berarti. Menciptakan struktur dan menyisihkan waktu untuk berkolaborasi adalah hal yang penting, begitu juga dengan mempertemukan orang-orang dari berbagai departemen, yang berbeda peran, dan juga berbeda latar belakang. Orang ingin mendengar ide orang lain sehingga mereka bisa menginspirasi atau mengasah ide mereka sendiri.
Memberi karyawan kebebasan untuk mengambil risiko dapat memberdayakan kreativitas, tetapi pemimpin perlu mempertimbangkan bahwa berbagi ide baru juga dapat membuat orang merasa rentan dan memiliki efek yang sebaliknya. Berkolaborasi dalam proyek kreatif atau sesi ide dalam kelompok dapat membantu mengurangi hal ini, tetapi kepemimpinan juga perlu menciptakan lingkungan di mana kegagalan dan berbagi ide adalah norma dan bagian dari proses.
Menurut pengalaman saya, menyatukan individu dengan minat yang sama berpotensi untuk memperkaya komunitas dan memperdalam budaya juga. Selain itu, selama masa stres, pergolakan, atau ketidakpastian, seperti yang dialami banyak dari kita saat ini, komunitas juga dapat menjadi sangat restoratif selain menjadi ruang yang aman untuk merangsang kreativitas.
Gunakan kreativitas sebagai alat untuk mensejahterakan karyawan
Anda tidak akan pernah bisa memanfaatkan potensi kreatif yang sebenarnya dari tenaga kerja Anda jika Anda tidak memperhatikan karyawan Anda. Keseimbangan kehidupan kerja dan mendorong karyawan untuk memanfaatkan outlet kreatif di luar tempat kerja tidak hanya dapat menyebabkan terobosan, tetapi juga dapat melakukan keajaiban untuk meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan secara keseluruhan.
Cara sederhana untuk melakukannya adalah melalui tunjangan yang dapat digunakan untuk aktivitas kreatif, apakah itu mendaftar untuk kelas melukis online, berpartisipasi dalam workshop fotografi, atau menghadiri seminar menulis online. Karyawan yang sepenuhnya mengeksplorasi kemampuan kreatif mereka adalah mereka yang menghasilkan ide paling orisinal dan mendorong kami untuk mencapai solusi yang lebih dari yang diketahui.
Ini bahkan lebih penting sekarang karena kita semua menjalani pekerjaan dan kehidupan pribadi kita dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di masa-masa stres, menemukan cara untuk mendorong eksplorasi dan rasa ingin tahu tidak hanya berdampak positif pada kinerja, tetapi juga kesejahteraan dan moral perusahaan secara keseluruhan.
Belajarlah dari anak-anak, sisakan waktu untuk bermain
Sebagai anak-anak, kita didorong untuk mengeksplorasi minat kreatif kita. Kita diajarkan untuk bereksperimen dan menemukan sesuatu. Kami tidak dibatasi oleh perilaku, norma sosial, atau keraguan diri yang ada. Saat kita menua dan menghadapi realitas kedewasaan, kreativitas dapat memudar dan mundur jadi latar belakang bagi banyak dari kita. Kami mulai membandingkan kreativitas kami dengan kreativitas profesional dan elit. Budaya kita yang selalu aktif, rentetan informasi di setiap menit sepanjang hari dan rutinitas menjauhkan kita dari sisi kreatif yang kita miliki.
Seiring perjalanan karier saya, saya menyadari betapa pentingnya memberikan ruang bagi karyawan untuk menemukan jalan kembali ke rasa ingin tahu yang alami. Aturan “20 persen waktu” yang terkenal dari Google mendorong karyawan untuk meluangkan satu hari penuh per minggu untuk mengerjakan proyek pribadi (passion project). Ini adalah contoh bagaimana waktu bawaan untuk bermain dan imajinasi dapat memicu kreativitas dan mengarah pada peningkatan produktivitas.
Tentu saja, Anda tidak bisa bermain sepanjang waktu, tetapi semakin banyak pemimpin yang dapat melepaskan orang-orang dari daftar tugas, rapat, dan tekanan harian, semakin kreatif (dan juga meningkatnya daya tahan terhadap perubahan ekonomi) organisasi Anda nantinya.
Photo by Dragos Gontariu on Unsplash