Pengkultusan terhadap orang yang dianggap jenius & kreatif itu muncul dengan hadirnya superstar seni pertama yang bernama, Michelangelo. Pada tahun 1550 penulis biografi dan guru humasnya, Giorgio Vasari, mempromosikan gagasan tentang Dewa (Devine) Michelangelo. Bakatnya adalah hadiah dari Tuhan, kata Vasari, dan mengklaim bahwa Tuhan menganugerahkan kemampuan seperti itu hanya kepada segelintir orang yang memiliki hak istimewa, orang-orang terpilih. Pernyataan ini memupuk sikap elit dan melemahkan kreativitas.
Apa yang tidak disebutkan Vasari adalah ketergantungan Michelangelo pada pasukan asistennya. Arsip berisi ratusan tagihan untuk para pembantunya yang sangat terampil, ada sekitar 12 orang yang bekerja terus menerus di langit-langit Kapel Sistina, misalnya, yang menjelaskan skala pencapaiannya dan fakta bahwa tugas fisik ini mungkin tampak mustahil. Menurut saya ini tidak meremehkan prestasinya. Perannya mirip dengan sutradara film, seperti Francis Ford Coppola pada masa sekarang, seseorang yang mewujudkan proyek besar dengan membimbing kru teknis untuk memenuhi visi itu. Pencapaian yang luar biasa, tetapi bukan manusia super. Sementara trilogi Godfather adalah visi Coppola, dan dia mendapatkan penampilan luar biasa dari Marlon Brando dan pemain lainnya, akan salah untuk mengaitkan desain kostum, penulisan naskah, mengatur pencahayaan, pengeditan, dan yang lainnya terlibat dalam pembuatan film kepada sutradara.
Tidak diragukan lagi salah satu jenius besar dunia, Michelangelo tidak memiliki begitu banyak karunia ilahi sebagai bakat yang dipelihara secara intensif. Dibesarkan oleh pekerja tambang, ia bisa memahat dan memotong balok batu sejak usia enam tahun. Pada usia dua belas tahun ia telah mengukir batu selama ribuan jam. Pada usia empat belas ia magang ke studio seniman. Tingkat pelatihan keterampilan tersebut tidak mungkin dilakukan pada masa sekarang. Bahkan, itu ilegal.
Para ahli di jaman dulu adalah sumber inspirasi yang hebat, tetapi kita tidak akan pernah bisa meniru tingkat keterampilan mereka. Kita harus menemukan kekuatan kita sendiri. Ketika Rod Judkins memberikan workshop kreativitas kepada sebuah perusahaan, ia mencoba mengajak semua orang untuk ambil bagian: akuntan, staf admin, teknisi, siapa pun yang ada di sekitar, bukan hanya orang-orang ‘kreatif’. Di akhir sesi, orang-orang ‘non-kreatif’ biasanya terkejut melihat betapa kreatifnya mereka. Selama ini mereka telah diarahkan untuk percaya bahwa mereka tidak memiliki kemampuan sehingga menjadikan mereka kurang percaya diri. Berpikir kreatif itu seperti otot yang perlu diperkuat melalui latihan. Saya sering mengatur latihan yang setiap latihannya akan memakan waktu lima atau sepuluh menit, seperti seorang atlet yang mungkin melakukan serangkaian latihan pendek untuk menjadi bugar.
Seberapa sering Anda mendengar, ‘Saya tidak bisa menggambar’ atau ‘Saya tidak bisa membedakan nada’. Konsep bakat bawaan ini mengikis kepercayaan diri. Banyak orang tidak mengembangkan bakatnya karena dibuat merasa tidak dilahirkan dengan bakat yang dibutuhkan untuk menjadi profesional.
‘Bakat’ sering disalahartikan dengan ‘kemampuan bawaan’, tetapi banyak orang juga mengacaukan ‘bakat’ dengan ‘keterampilan’. Pikiran kreatif modern tidak bertujuan untuk menunjukkan kemahiran atau penguasaan teknis, namun lebih peduli dengan mengomunikasikan ide dan konsep dalam media apa pun yang cocok. Lebih menarik jika seorang insinyur membuat roket dari batu, seorang pelukis melukis dengan darah, atau seorang pemain harpa memainkan tali jemuran. Tugas kita adalah mengembangkan potensi kreatif kita dalam bentuk apa pun, tanpa memikirkan bahwa kita ‘dilahirkan’ dengannya atau tidak.
Photo by Genine Alyssa Pedreno-Andrada on Pexels.com