Apakah pesawat ulang-alik Columbia yang pecah saat memasuki kembali atmosfer bumi dan langsung menewaskan ketujuh awaknya itu penyebabnya adalah slide PowerPoint yang dirancang dengan buruk? Lho? Apa hubungannya? Beberapa hari sebelum peluncuran, sepotong busa insulasi telah mengenai sayap pesawat tersebut. Saat Columbia masih mengorbit Bumi, para engineer NASA menunjukkan hasil penyelidikan mereka kepada atasan mereka. Potongan busa itu ratusan kali lebih besar dari apa pun yang pernah mereka uji dan bisa menyebabkan keretakan yang parah. Sayangnya peringatan mereka disampaikan di PowerPoint. Atasan mereka pergi dari acara presentasi tersebut dengan berpikir semuanya baik-baik saja.
Presentasi yang memukau secara visual selalu bercerita tentang sesuatu, melibatkan audiens mereka, dan membuat informasi menjadi bermakna, menghibur, dan indah. Besarnya masalah yang dihadapi NASA jadi hilang terkubur dalam slide yang penuh dengan bullet points. Edward Tufte, seorang profesor dan peneliti Yale University dalam penyajian informasi visual, menyelidiki insiden tersebut dan menunjukkan bahwa PowerPoint mendorong pemikiran yang buruk dengan desainnya sendiri. Dia mengkritik formatnya: ide-ide kompleks yang terjepit ke dalam poin-poin mendistorsi informasi yang ingin disampaikan. Jika disajikan dengan media yang berbeda, bencana tersebut hampir pasti bisa dicegah. Sebuah dewan independen mendapatkan kesimpulan yang sama setelah membaca analisis Tufte, mengakui bahwa: ‘Sangat mudah untuk memahami bagaimana seorang manajer senior mungkin membaca slide PowerPoint ini dan tidak menyadari bahwa presentasi tersebut membahas situasi yang mengancam jiwa’.
Lingkungan kerja Anda, apakah itu supermarket, kantor, studio, atau lokasi bangunan, membujuk Anda untuk bekerja dan berpikir dengan cara tertentu. Semakin Anda sadar akan hal itu dan semakin Anda memahami media yang Anda gunakan, semakin Anda dapat menggunakannya untuk keuntungan Anda. Rapat tentang bidang tertentu bisanya bukan tentang bidang tersebut, namun tentang rapat: formatnya, politik internal, hierarki, dan cara segala sesuatunya dikelola dan diatur. Keputusan paling umum dalam sebuah rapat adalah mengadakan rapat lagi. Jadi sebenarnya bukanlah keputusan yang sesungguhnya.
Seniman adalah yang pertama menyelidiki ide ini, khususnya surealis. Lukisan Rene Magritte adalah lukisan tentang lukisan. Ide surealisnya memiliki pengaruh besar pada pemahaman kita tentang bagaimana medium mengubah pesan. Alih-alih menghasilkan seni tentang sesuatu yang telah dia amati, karyanya mencerminkan apa itu lukisan dan efek aktual yang ditimbulkannya pada pemirsa. Dia meminta para penikmat karyanya untuk meragukan ilusi yang disajikan kepada mereka.

Lukisan Magritte The Treachery of Images menunjukkan sebuah pipa dengan tulisan This not a pipe’ di bawahnya. Sekilas ini tampak kontradiksi, tetapi sebenarnya itu betul: ini bukan pipa, itu adalah gambar pipa. Magritte menunjukkan bahwa lukisan adalah ilusi. Ia mencoba memahami bahasa seni lukis, bagaimana cara kerjanya dan bagaimana sebuah lukisan menyampaikan gagasan, dan menantang persepsi prakondisi pengamat tentang bentuk seni. Lukisan bunga bukan tentang bunga, ini tentang media lukisan: tradisi, sejarah, bingkai, galeri, dan harapan yang dimiliki pemirsa.
Seniman seperti Magritte memahami medium mereka dan menyampaikan informasi berupa puisi visual. Itu membuatnya lebih mudah diingat dan dipahami, tidak seperti informasi dari poster, televisi, surat kabar, dan internet yang ditumpahkan pada kita di masa sekarang. Kita tenggelam di dalamnya.
Kebanyakan dari kita semua adalah konsumen pasif yang tidak pernah menganalisis media. Di bioskop, publik mengikuti ilusi dan menikmati tontonan. Bagi seorang pemikir kreatif, hiburannya adalah mendekonstruksi tontonan dan menganalisis bagaimana mereka bisa menyusun film secara berbeda. Bagaimana jika adegan terakhir dan adegan pertama ditukar? Bagaimana jika pemeran utama dan pendukung berganti peran? Bagaimana jika itu adalah film bisu? Membayangkan bagaimana elemen dapat diubah mempertajam pemikiran kreatif. Untuk berkembang dalam bidang aktivitas apa pun, Anda perlu mendapatkan pemahaman yang mendalam tentangnya.
Photo by Siora Photography on Unsplash