Ada satu topik yang sangat menarik yang sedang diperbincangkan di salah satu Whatsapp Group para desainer produk/industrial designer pagi ini (Desproyer), yaitu topiknya adalah designer yang banting stir menjadi crafter karena menjadi crafter dirasakan lebih dihargai. Ok sebelum lebih lanjut saya coba ceritakan sedikit bagaimana topik ini jadi muncul.
Pagi ini salah satu dari member group tersebut (mas Irawan Hariputranto) berbagi tentang pengalamannya berkunjung ke salah satu stand di IIMS 2022 (Indonesia International Motor Show 2022) yang memamerkan mobil-mobil replika buatan studio/perusahaan Indonesia yang namanya Tuksedo Studio. Pemilik dari Studio Tuksedo ini (namanya mas Puji Handoko) ternyata sahabat lamanya mas Irawan.
Mas Puji ini dulunya adalah seorang arsitek, namun menurut cerita yang dituturkan oleh mas Irawan, setelah 40 tahun melakoni profesi sebagai seorang arsitek, kondisi tidak seperti yang diharapkan. Dengan kata lain jasa arsitek yang ia tawarkan tidak kunjung membuat dirinya bisa terkenal. Perlu diketahui, seperti juga desainer, jika seorang arsitek dianggap belum terkenal maka selalu saja rate jasa desain yang diberikan menjadi objek untuk ditekan supaya lebih murah. Keadaan yang tidak terjadi jika namanya sudah menjadi terkenal. Ditengah-tengah kesibukannya menjalani profesi sebagai arsitek, mas Puji membangun sebuah replika mobil klasik pertamanya yang bisa dilihat di bawah ini

Karya replika ini mengundang banyak perhatian dari kalangan hobbyist dan kolektor tentunya. Sampai akhirnya yang membuat mas Puji banting stir secara total (dari profesinya sebagai seorang arsitek) adalah saat ia bertemu dengan salah satu kolektor mobil klasik yang memiliki koleksi lebih dari 200 mobil klasik yang mengajaknya berpartner untuk menjalankan bisnis replika mobil-mobil klasik, yang diberi nama Studio Tuksedo ini.
It’s really inspiring story I might say
Perhatian saya sebetulnya lebih pada keputusan banting stirnya mas Puji dari seorang arsitek ke seorang crafter yang disebabkan tidak bisa berkembangnya (menurut mas Puji) dirinya saat menjalani profesi arsitek tersebut.
Apakah pasar sudah jenuh terhadap keberadaan profesi arsitek sehingga menyebabkan pangsa pasar memiliki banyak pilihan? Sehingga membuat para arsitek tidak punya posisi tawar yang cukup kuat? Mungkin itu yang terjadi ya, ini hanya asumsi saya yang bisa saja salah.
Bagaimana dengan profesi desainer produk industri? Sekali lagi saya pikir permasalahannya tidak sama dengan arsitek yang sudah dikenal luas di masyarakat. Desainer produk industri saya rasa belum banyak yang kenal dengan profesi ini dan ini membuat demand terhadap profesi ini tidak sebesar arsitek.
Bagaimana menurut Anda? Atau punya pendapat lain?
Menurut saya standard keprofesian kita musti sama dan jelas. Agar konsumen mengerti dan bisa menakar berapa harga profesi kita.
Ini PR kita bersama di asosiasi profesi mengingat Industrial Designer itu profesi yang terlalu luas. Sama dengan kalau kita menyebut Insinyur itu bidang keilmuan yang sangat luas. Berbeda halnya kalau kita focus pada sub profesinya industrial Designer maka akan menjadi lebih jelas. Misalnya Car atau transportation Designer bidang profesi ini cukup diminati dan sudah memiliki posisi yang jelas. Tinggal bagaimana cabang keilmuan ini bisa menunjukkan berkontribusi kepada industrinya dengan baik. Maka penghargaan terhadap profesi ini akan secara otomatis tinggi.
Thanks sudah mentriger pemikiran ini
SukaDisukai oleh 1 orang