Pagi ini saya mengikuti salah satu sharing session dalam rangkaian acara Business of Design (BoD) yang diselenggarakan oleh ADPII (Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia) yang bekerjasama dengan IFFINA, dengan pembicara sahabat saya, Isti Danishwari, seorang trend forecaster yang berbasis di Jerman.

Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas materi yang dipresentasikan Isti, namun saya tertarik dengan apa yang disampaikan Isti pada pembukaan presentasinya. Ia menyinggung kekhawatiran banyak desainer bahwa trend forecasting itu dapat membatasi kreativitas desainer dalam mengembangkan ide mereka. Apa benar demikian?

Apakah trend forecasting dalam desain dapat membatasi kreativitas desainer dalam mengekspresikan ide itu sangat bergantung pada cara penggunaannya. Jika trend forecasting digunakan sebagai titik awal untuk mendapatkan inspirasi, hal ini dapat membantu desainer untuk tetap mengikuti perkembangan tren terkini dan membuat desain yang relevan dengan audiens target mereka. Namun, jika trend forecasting digunakan sebagai cetak biru sebuah desain, tentu hal ini dapat menghambat kreativitas dan menghasilkan desain yang diturunkan dari cetak biru tersebut dan menjadi tidak orisinal.

Berikut beberapa cara bagaimana trend forecasting dapat digunakan untuk meningkatkan kreativitas dalam desain:

  • Untuk mengidentifikasi tren yang selaras dengan visi pribadi desainer. Trend forecasting dapat membantu desainer mengidentifikasi tren yang selaras dengan nilai dan preferensi estetika mereka. Hal ini dapat membantu mereka untuk menciptakan desain yang lebih autentik dan orisinal.
  • Untuk menghasilkan ide-ide baru. Trend forecasting dapat digunakan untuk menghasilkan ide-ide baru dengan memberikan kerangka berpikir kepada para desainer tentang masa depan. Hal ini dapat membantu mereka menemukan cara-cara baru dan inovatif untuk memecahkan masalah atau memenuhi kebutuhan audiens target mereka.
  • Untuk menciptakan rasa urgensi. Trend forecasting dapat membantu desainer menciptakan rasa urgensi dengan menunjukkan kepada mereka bagaimana tren berkembang seiring waktu. Hal ini dapat membantu mereka mengambil keputusan yang tepat mengenai kapan akan meluncurkan produk atau layanan baru.

Berikut beberapa cara bagaimana trend forecasting dapat membatasi kreativitas dalam desain:

  • Jika desainer terlalu bergantung pada tren, desain mereka bisa menjadi hanya turunan dan tidak orisinal. Ketika desainer terlalu mengikuti tren, desain mereka mungkin kurang memiliki orisinalitas dan kreativitas. Ini karena mereka tidak mengambil risiko atau mengeksplorasi ide-ide baru.
  • Jika desainer tidak berhati-hati, trend forecasting dapat menyebabkan mereka mendesain demi tren, bukan demi penggunanya. Ketika desainer terlalu fokus pada tren, mereka mungkin kehilangan pandangan terhadap kebutuhan penggunanya. Hal ini dapat menyebabkan desain tidak fungsional atau ramah pengguna.

Pada akhirnya, apakah trend forecasting dapat membatasi kreativitas dalam desain, itu tergantung pada desainernya. Jika digunakan dengan bijak, trend forecasting dapat menjadi alat yang ampuh untuk meningkatkan kreativitas. Namun jika digunakan secara berlebihan dapat menghambat kreativitas dan membuat hasil desain jadi tidak berkembang.

Berikut beberapa tip dalam menggunakan trend forecasting untuk meningkatkan kreativitas dalam desain:

  • Gunakan trend forecasting sebagai titik awal, bukan sebagai cetak biru. Jangan takut untuk bereksperimen dan mengambil risiko.
  • Tetap setia pada visi Anda sendiri. Jangan biarkan tren menentukan pilihan desain Anda.
  • Fokus pada kebutuhan pengguna Anda. Jangan mendesain demi tren. Desain untuk orang-orang yang akan menggunakan produk atau layanan Anda.

Kesimpulan

Trend forecasting dapat menjadi alat yang ampuh untuk meningkatkan kreativitas dalam desain. Namun, penting untuk menggunakannya dengan bijak. Jika digunakan terlalu banyak, dapat menghambat kreativitas dan membuat hasil desain jadi tidak berkembang. Dengan mengikuti tips dalam artikel ini, Anda dapat menggunakan trend forecasting agar bisa membuat desain yang kreatif dan relevan.

Photo by Anna Shvets on Pexels.com