Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman sesama desainer produk berdiskusi tentang sebuah kebingungan yang makin sering muncul di kalangan kami. Ternyata, banyak desainer aplikasi dan platform digital yang kini menyebut dirinya sebagai product designer. Ini memunculkan pertanyaan mendasar: Apakah mereka berbicara tentang profesi yang sama? Dan kalau tidak, bagaimana sebaiknya kita menyikapinya—terutama di ranah pendidikan desain?

Asal-Usul Istilah “Product Designer”

Istilah “product designer” sesungguhnya memiliki akar sejarah yang panjang. Dalam konteks awalnya, profesi ini merujuk pada mereka yang merancang produk fisik: alat rumah tangga, kendaraan, furnitur, elektronik, dan sebagainya. Mereka adalah desainer yang berurusan dengan bentuk, fungsi, material, ergonomi, hingga proses manufaktur.

Namun, sejak meledaknya industri startup dan produk digital, istilah ini mulai digunakan oleh mereka yang merancang produk digital: aplikasi, website, dan platform daring. Mereka bertugas memastikan pengguna dapat berinteraksi secara intuitif dan menyenangkan dengan antarmuka yang mereka rancang.

Dua Dunia, Dua Praktik, Satu Nama

Sebenarnya, perbedaan keduanya cukup jelas. Namun penggunaan nama yang sama membuat batasnya menjadi kabur. Apakah dua ranah ini berasal dari skill set yang sama?

Jawabannya: tidak sepenuhnya, tetapi memang ada irisan penting di antara keduanya. Baik desainer produk fisik maupun digital sama-sama menggunakan prinsip user-centered design, riset pengguna, prototyping, dan pendekatan problem-solving. Namun alat, konteks, dan proses mereka sangat berbeda.

Tabel Perbandingan Skill Set dan Tools:

Aspek / Skill SetProduct Designer (Fisik)Product Designer (Digital)
PrototypingMock-up fisik, 3D printingWireframe interaktif (Figma, Framer)
Pengetahuan TeknisMaterial, ergonomi, manufakturStruktur UI/UX, logika interaksi
ToolsSolidWorks, Rhino, KeyShotFigma, Sketch, Webflow
KolaborasiEngineer, produsen, manufakturDeveloper, product manager

Tantangan untuk Dunia Pendidikan Desain

Di sinilah tantangan besar muncul—terutama bagi institusi pendidikan desain. Program studi bernama “Desain Produk” di banyak kampus masih mengacu pada konteks produk fisik. Namun, industri mulai memaknai istilah product designer secara lebih luas, bahkan digital-sentris.

1. Menegaskan Fokus: Produk Fisik

Beberapa kampus memilih mempertahankan jati diri awal dengan memperkuat kurikulum desain produk nyata. Mereka menggunakan istilah “Industrial Design” atau “Desain Produk Industri” untuk menegaskan arah keilmuannya.

2. Menambahkan Konsentrasi Digital

Ada juga kampus yang mulai membuka jalur peminatan atau mata kuliah khusus UX/UI, interaction design, dan digital product design untuk merespons kebutuhan industri digital.

3. Merancang Program Hybrid

Beberapa institusi global telah membentuk program lintas disiplin seperti Integrated Product Design atau Design and Technology yang menjembatani desain fisik, digital, dan layanan.

4. Tantangan di Indonesia

Mayoritas sekolah desain di Indonesia masih sangat kuat pada produk fisik. Padahal banyak lulusan akhirnya bekerja di sektor digital. Inilah celah yang bisa diisi: membekali mahasiswa dengan literasi desain digital tanpa mengorbankan kedalaman produk fisik.

Apa yang Bisa Dilakukan Sekolah Desain?

  1. Perjelas posisi program studi: apakah fokus pada produk fisik, digital, atau hybrid?
  2. Bangun kolaborasi lintas prodi: desain bisa diperkaya lewat sinergi dengan Teknik Informatika, Bisnis Digital, dan Psikologi.
  3. Perbarui kurikulum secara reguler: utamakan kompetensi desain sistem, pengalaman pengguna, dan tanggung jawab sosial.
  4. Dorong refleksi dan wawasan luas: mahasiswa perlu memahami bahwa desain bukan hanya bentuk, tapi juga makna, sistem, dan dampaknya.

Dunia desain sedang berubah. Tapi justru di sanalah letak tantangannya: bagaimana kita menjaga kedalaman keilmuan, sambil tetap tanggap terhadap perkembangan zaman.

Penutup

Jika kamu adalah pengajar, praktisi, atau mahasiswa desain, mungkin inilah saatnya kita semua ikut mendiskusikan kembali siapa sebenarnya product designer hari ini. Bukan untuk membatasi maknanya, tapi untuk memperkaya dan memperjelas perannya dalam dunia yang terus berubah. Sekolah desain tidak harus ikut-ikutan tren, tapi ia wajib menjelaskan kepada mahasiswanya: dunia yang kamu hadapi tidak lagi seperti dulu. Maka kamu harus lebih dari sekadar bisa menggambar.

Photo by Pavel Danilyuk on Pexels.com