Saya adalah seorang pendidik di bidang desain, namun saya tidak berada langsung di ranah desain grafis. Walau begitu, perhatian saya terhadap dunia profesi desain—dalam segala cabangnya—membuat saya tak bisa menutup mata terhadap dinamika yang terjadi. Terutama belakangan ini, ketika saya melihat ada kegelisahan yang cukup nyata dari para praktisi desain grafis.
Salah satu isu yang sering muncul adalah anggapan bahwa semua orang kini merasa bisa mendesain. Kehadiran platform seperti Canva, Figma, bahkan layanan cetak cepat seperti Snapy atau Revo yang menawarkan jasa desain instan, telah menimbulkan persepsi bahwa profesi desainer grafis sudah tidak lagi dibutuhkan. Cukup drag & drop, ganti warna, cetak, selesai.
Tentu ini menjadi pertanyaan penting: apakah profesi desainer grafis masih relevan hari ini?
Desain Bukan Sekadar Hasil Visual, Tapi Cara Berpikir
Pertanyaan ini membawa saya pada refleksi lebih dalam. Bahwa selama ini, masyarakat banyak yang masih memandang desain hanya sebatas visual atau tampilan. Padahal, baik dalam desain produk maupun desain grafis, esensi desain adalah pemecahan masalah melalui pendekatan visual dan strategis.
Desain bukan sekadar kemampuan teknis menggunakan software. Desain adalah proses berpikir—mulai dari memahami konteks, menganalisis kebutuhan, merumuskan pesan, hingga memilih cara komunikasi visual yang efektif dan bermakna.
Perubahan Nama Menjadi Desain Komunikasi Visual: Isyarat Transformasi
Di tingkat pendidikan tinggi, kita menyaksikan pergeseran nomenklatur dari Desain Grafis menjadi Desain Komunikasi Visual (DKV). Ini bukan perubahan kosmetik. Perubahan ini mencerminkan kenyataan bahwa desainer hari ini tidak hanya membuat bentuk, tetapi juga mengonstruksi makna dan menjembatani komunikasi antara entitas dan audiensnya.
Peran desainer kini makin strategis. Mereka dituntut untuk memahami psikologi audiens, perilaku pengguna, logika komunikasi, dan bahkan etika visual. Namun sayangnya, pergeseran peran ini belum sepenuhnya dipahami masyarakat luas.
Ketika Canva Mengaburkan Garis Antara Alat dan Keahlian
Saya tidak ingin menyalahkan Canva atau alat sejenis. Mereka adalah teknologi yang demokratis, mempermudah banyak pihak dalam memproduksi visual. Tapi di situlah letak persoalan: aksesibilitas sering kali menipu. Banyak yang mengira bahwa bisa menggunakan Canva berarti bisa menjadi desainer.
Sama seperti memiliki kamera bagus tidak otomatis membuat seseorang menjadi fotografer profesional, mampu menyusun elemen visual lewat template tidak serta-merta menjadikan seseorang desainer.
Apa yang Bisa Kita Lakukan Sebagai Pendidik dan Pengamat?
Menurut saya, ini saatnya komunitas desain secara kolektif melakukan kerja jangka panjang untuk mengubah persepsi publik. Beberapa hal yang bisa menjadi langkah awal:
1. Edukasi Masyarakat Melalui Literasi Visual
Perlu upaya sadar dan konsisten untuk membangun pemahaman publik bahwa desain adalah proses, bukan hasil. Edukasi ini bisa dilakukan melalui media sosial, pameran, buku populer, atau konten kreatif yang membedakan desain instan dengan desain terkonsep.
2. Transparansi Proses: Tampilkan “Dapur” Desain
Salah satu cara untuk memperlihatkan nilai sebuah profesi adalah dengan membuka proses kerjanya. Desainer perlu menunjukkan bukan hanya hasil jadi, tetapi juga tahapan berpikir, riset, eksplorasi visual, hingga iterasi desain.
3. Portofolio Naratif: Lebih dari Sekadar Visual
Desainer—baik profesional maupun mahasiswa—perlu didorong menyusun portofolio yang menjelaskan konteks, bukan hanya estetika. Dengan begitu, nilai intelektual dan strategis dari desain akan lebih mudah dipahami oleh publik.
4. Bangun Imaji Baru Profesi Desain
Desainer bukan tukang gambar, tapi pemecah masalah visual. Ini harus menjadi narasi bersama yang dikampanyekan lintas platform, melalui asosiasi profesi, lembaga pendidikan, dan komunitas kreatif.
Penutup: Mendesain Ulang Pemahaman tentang Desain
Bukan profesi desain yang tidak relevan, tapi cara kita memahaminya yang perlu didesain ulang. Masyarakat tidak bisa disalahkan karena belum tahu. Tapi kita—yang berada di lingkaran profesi, pendidikan, dan pengamatan—perlu menjadi jembatan pengetahuan itu.
Profesi desainer grafis tetap relevan. Yang dibutuhkan adalah upaya bersama untuk menampilkan nilai sebenarnya dari pekerjaan mereka—sebagai pemikir, penyampai pesan, dan pemecah masalah melalui bahasa visual.
Saya yakin, jika ini menjadi kerja bersama, maka kelak masyarakat tidak lagi menganggap bahwa desain bisa digantikan oleh template. Karena mereka akan paham: desain bukan soal alat, tapi soal cara berpikir.
Photo by Antoni Shkraba Studio on Pexels.com