Beberapa waktu lalu, saya membagikan sebuah opini pendek di grup WhatsApp alumni kampus. Isinya tentang bagaimana masyarakat sering kali salah kaprah dalam memahami profesi desainer grafis. Tidak saya sangka, tulisan itu memicu diskusi hangat, terutama ketika saya melempar pertanyaan:
“Apakah teman-teman desainer interior juga merasakan hal yang sama?”

Chika, adik kelas saya saat kuliah yang kini sudah menjadi desainer interior profesional, langsung merespons. Ceritanya membuat saya berpikir lebih jauh. Saya kutip langsung sebagian dari pesannya:

“Sama seperti keilmuan yang lain, Bang. Masyarakat juga belum terlalu memahami apa itu interior. Banyak yang pikir interior itu hanya sekadar dekorasi. Taste saja sudah cukup. Malah tidak jarang ranah interior pun di-coupe oleh keilmuan yang lain, arsitek misalnya… atau bisa juga sebaliknya.”

“Pemikiran ‘sekalian aja’ + meminimalkan budget jadi salah satu unsur yg membuat interior tidak terlalu penting. Toh bisa plug & play juga.”

Realitas yang Tak Banyak Dipahami

Cerita Chika tidak berdiri sendiri. Banyak desainer interior muda mengalami hal serupa. Mereka dianggap sebagai “tukang dekorasi”—profesi yang bisa dikerjakan siapa saja selama punya selera, bahkan tanpa pendidikan formal. Padahal dalam kenyataannya, pekerjaan mereka menyentuh aspek yang jauh lebih teknis dan kompleks.

Seorang desainer interior memikirkan pencahayaan, ventilasi, alur ruang, material, ergonomi, hingga psikologi pengguna. Mereka merancang ruang agar tak hanya indah, tapi juga aman, sehat, dan fungsional.

Namun kenyataan di lapangan sering kali berkata lain. Keilmuan mereka diambil alih, diringankan, bahkan diabaikan. Tak jarang, klien berkata: “Nggak usah pakai desainer, langsung ke tukang aja.”

Profesi yang Terdesak oleh Persepsi

Salah satu kalimat Chika yang paling membekas bagi saya adalah ini:

“Interior malah sering seperti pekerjaan ‘nukang’. Jadi desainer interior perlu punya ilmu & taste yang mengerucut, supaya lebih punya nilai. Misalnya kuat di lighting, mebel, dll.”

Itu adalah bentuk adaptasi, tapi juga strategi bertahan. Ketika masyarakat belum bisa menghargai desain interior sebagai satu keilmuan utuh, maka banyak desainer terpaksa mengerucutkan diri—menjadi spesialis lampu, material, atau produk—agar punya posisi yang lebih jelas di hadapan pasar.

Namun ini juga berarti, mereka terus berada dalam posisi menjelaskan diri. Memperjuangkan legitimasi profesinya sendiri sebelum bisa benar-benar bekerja.

Sebagai Alumni, Saya Melihat Ini Sejak Dulu

Sebagai alumni yang sudah lebih lama berkecimpung di dunia desain, saya tidak hanya membaca cerita ini dengan kepala, tetapi juga dengan hati. Saya menyaksikan sendiri bagaimana adik-adik kelas saya seperti Chika, yang dulunya begitu antusias menempuh jalur profesi ini, kini harus menghadapi kenyataan bahwa masyarakat belum sepenuhnya siap menerima keberadaan mereka sebagai desainer profesional.

Saya tahu bagaimana mereka bekerja keras—menyusun portofolio, memperdalam keahlian, terus belajar—namun tetap harus menjelaskan dari awal: “Apa sih kerja desainer interior itu?”

Saya tahu betapa lelahnya menjawab, lalu berusaha meyakinkan, dan pada akhirnya… kadang mengalah demi proyek tetap berjalan.

Sebagai kakak kelas, saya merasa ada tanggung jawab untuk membantu menyuarakan kenyataan ini. Tidak hanya agar profesi mereka lebih dihargai, tapi agar ruang-ruang yang dibangun masyarakat kita bisa lebih manusiawi dan bermakna. Karena desain bukan hanya urusan estetika—ia adalah bagian dari peradaban.

Saatnya Menghargai yang Tak Terlihat

Profesi desainer interior, dan banyak profesi kreatif lainnya, sering kali bekerja dalam diam—mendesain ruang, pengalaman, suasana, dan rasa nyaman yang kita nikmati setiap hari, tapi jarang kita sadari proses di baliknya.

Tulisan ini adalah bagian kedua dari rangkaian opini tentang profesi-profesi kreatif yang sering disalahpahami (baca bagian pertamanya di sini). Saya percaya bahwa salah satu bentuk kemerdekaan berpikir adalah memahami dan menghargai kerja orang lain—terutama mereka yang selama ini luput dari sorotan.

Di tulisan berikutnya, saya akan mengangkat cerita lain: dari fotografer yang selalu ditawar seenaknya, hingga penulis konten yang dianggap sekadar “tukang ketik.”
Karena jika kita tidak memulai dari sekarang, kapan lagi kita akan belajar melihat nilai di balik pekerjaan yang tak kasat mata?

Photo by Photo By: Kaboompics.com on Pexels.com