Saya sering mendapat pertanyaan yang sama dari mahasiswa, rekan sejawat, bahkan klien: “Sebenarnya, siapa sih yang berhak mendesain kursi?” Pertanyaan ini muncul bukan tanpa alasan. Kursi, sebagai objek desain, tampak sederhana—empat kaki, alas duduk, dan sandaran. Tapi justru karena kesederhanaannya itulah, kursi menjadi medan silang tiga disiplin: desain produk, desain interior, dan arsitektur.

Sebagai desainer produk, saya melihat kursi bukan sekadar tempat duduk. Ia adalah wujud paling jujur dari hubungan antara tubuh manusia dan benda. Ia harus memahami berat, tekanan, gerak, dan kenyamanan. Dalam mendesain kursi, saya mengukur sudut kemiringan sandaran, tinggi dudukan dari lantai, hingga jari-jari lengkungan pada tepian tempat duduk. Setiap milimeter berarti. Setiap bahan membawa cerita.

“A chair is a very difficult object. A skyscraper is almost easier. That is why Chippendale is famous.”
— Ludwig Mies van der Rohe

Namun, saya tidak bisa memungkiri bahwa ketika kursi itu ditempatkan dalam ruang, ia menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Di sinilah peran desainer interior masuk. Mereka menata atmosfer, memperhitungkan relasi antar benda dalam ruang, memilih palet warna dan tekstur, memastikan bahwa kursi tak hanya nyaman diduduki, tetapi juga selaras dilihat.

Bahkan, dalam beberapa kasus, kursi menjadi elemen penentu karakter ruang itu sendiri. Kursi bukan lagi sekadar tempat duduk, melainkan bagian dari cerita yang dibangun di dalam ruang itu.

Dan jangan lupakan arsitek. Beberapa dari mereka adalah perancang kursi paling ikonik dalam sejarah. Le Corbusier dengan LC Chair-nya, Alvar Aalto dengan kursi kayu lapis melengkung, Frank Lloyd Wright dengan desain yang kaku namun penuh pernyataan. Mereka merancang kursi bukan sebagai objek fungsional belaka, tapi sebagai kelanjutan dari ide arsitektural mereka.

“Furniture is architecture on a different scale.”
— Jean Prouvé

“Design is not just what it looks like and feels like. Design is how it works.”
— Steve Jobs
(kutipan ini relevan karena menyatukan nilai bentuk dan fungsi yang sering diklaim oleh berbagai disiplin desain)

Lalu, siapa yang berhak?

Saya kira pertanyaan ini bukan soal hak, tetapi soal pendekatan. Setiap disiplin membawa perspektif yang berbeda terhadap objek yang sama. Desainer produk melihat ke tubuh manusia. Desainer interior melihat ke ruang. Arsitek melihat ke konteks yang lebih luas. Jika kita bisa berdialog, bisa saling menghormati kompetensi dan kontribusi masing-masing, kursi bisa menjadi objek yang utuh—nyaman, kontekstual, dan penuh makna.

Masalah muncul ketika ego disipliner menguasai. Ketika desainer interior memaksakan bentuk tanpa memahami ergonomi. Ketika desainer produk menolak mempertimbangkan karakter ruang. Atau ketika arsitek memaksakan ideologi bentuk yang tak bisa diproduksi secara realistis. Di sinilah pentingnya kolaborasi.

“Good design is a renaissance attitude that combines technology, cognitive science, human need, and beauty.”
— Paola Antonelli (kurator desain MoMA)

Mendesain kursi yang baik bukan sekadar tugas satu orang atau satu profesi, tapi hasil pemahaman kolektif tentang manusia, ruang, dan kehidupan.

Sebagai desainer produk, saya percaya bahwa identitas kami terletak pada pemahaman mendalam terhadap objek dan pengguna. Tapi saya juga sadar, karya yang baik tidak hidup di studio saja. Ia akan tinggal di ruang, bersanding dengan benda lain, mengisi ritme keseharian manusia.

Jadi ketika ditanya, “Kursi siapa ini?”, saya ingin menjawab, “Ini kursi kita.” Kursi hasil pemikiran, dialog, dan rasa tanggung jawab bersama—bukan hanya pada estetika dan fungsi, tapi juga pada pengalaman dan keberlanjutan.

Daftar Referensi

Antonelli, P. (n.d.). Good design is a renaissance attitude that combines technology, cognitive science, human need, and beauty. [Quote]. Dikutip dari berbagai publikasi dan wawancara Paola Antonelli sebagai kurator senior di Museum of Modern Art (MoMA), New York.

Jobs, S. (2003). Design is not just what it looks like and feels like. Design is how it works. [Quote]. Dikutip dari wawancara dengan The New York Times Magazine dan berbagai dokumentasi publik mengenai filosofi desain Apple.

Mies van der Rohe, L. (n.d.). A chair is a very difficult object. A skyscraper is almost easier. That is why Chippendale is famous. [Quote]. Dikutip dalam Schulze, F. (1985). Mies van der Rohe: A Critical Biography. University of Chicago Press.

Prouvé, J. (n.d.). Furniture is architecture on a different scale. [Quote]. Dikutip dari dokumentasi pameran desain dan katalog Jean Prouvé: Architect for Better Days (2015), Fondation Louis Vuitton.


Photo by Hongly Oung on Unsplash