Sebuah pameran di London Design Biennale menghadirkan ratusan sendok sebagai cara untuk memulai pembahasan tentang bagaimana desain yang bagus pun dapat menghasilkan hasil yang tidak diinginkan.
Sendok sekali pakai adalah momok di planet ini. Kami menggunakannya selama beberapa menit untuk disertakan dalam bungkus makanan atau es krim, lalu membuangnya setelah digunakan. Mereka berakhir di tempat pembuangan sampah, di mana mereka duduk selama ratusan tahun, atau di laut, meracuni kehidupan laut. Tetapi akan tiba suatu hari dimana peralatan sekali pakai tersebut akan menjadi peninggalan masa lalu.
Instalasi baru di London Design Biennale membantu kita membayangkan masa depan ini dengan menghadirkan ratusan sendok sekali pakai seolah-olah sudah punah. Desainer Peter Eckart dan Kai Linke, yang menciptakan pameran ini, mengumpulkan ratusan sendok dari koleksi mereka sendiri, mengaturnya dengan indah menurut warna dan memajangnya dalam kotak kaca yang biasanya menampung fosil atau spesies kupu-kupu di museum sejarah alam. Pameran sendok plastik ini dirancang untuk mendorong percakapan tentang bagaimana desain yang baik pun dapat memiliki hasil negatif serta perubahan sistemik yang diperlukan untuk memerangi krisis lingkungan ini.

Dalam beberapa hal, pameran ini muncul secara tidak sengaja. Dua puluh tahun yang lalu, Eckhart dan Linke masing-masing secara terpisah mulai mengumpulkan sendok sekali pakai. Keduanya terpesona oleh desain benda sehari-hari yang sederhana ini. “Beberapa benar-benar sangat cantik,” kata Eckhart. “Mereka datang dalam berbagai warna dan bahan. Beberapa bahkan dibuat oleh desainer terkenal, seperti Philippe] Starck”.
Sebagai profesor desain di Hochschule für Gestaltung di Offenbach, Jerman, Eckhart mulai menggunakan sendok sebagai alat pengajaran. Ia dan murid-muridnya membahas kerumitan sendok, mulai dari proporsi hingga bahannya. Bersama-sama, satu kelas membuat “peta kompleksitas” yang memaparkan semua elemen sendok ini. Peta ini dipajang di pameran London. “Sendok plastik tidak hanya dirancang dengan baik, tetapi juga sempurna”, kata Eckhart. “Mereka sangat efektif dalam memenuhi suatu tujuan, itulah sebabnya mereka sangat populer di seluruh dunia. Tetapi mereka juga merupakan contoh bagaimana desain dapat memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan”.

Memang, selain pameran ini menunjukkan kejeniusan desain sendok sekali pakai, pameran ini juga merupakan kisah peringatan tentang bagaimana desain yang sangat inovatif dapat merusak ketika desainer fokus pada solusi jangka pendek yang mudah. Sendok plastik bisa dibilang membuat hidup kita lebih mudah dan mendukung pertumbuhan berbagai industri, tetapi manfaat ini datang dengan biaya yang sangat besar bagi planet ini. Sebagian besar peralatan makan sekali pakai berakhir di antara jutaan ton plastik di tempat pembuangan sampah dan lautan, di mana ia tidak akan pernah terurai, tetapi pecah menjadi potongan-potongan yang lebih kecil dan lebih kecil lagi yang pada akhirnya dapat berakhir di rantai makanan.
Ada gerakan global yang sedang berkembang untuk memberantas plastik sekali pakai ini. Mulai musim panas ini, Uni Eropa akan melarangnya, dan Eckhart berharap segera, satu-satunya tempat kita akan menemukan peralatan makan sekali pakai adalah di pameran museum. Tapi ia juga khawatir desainer masih mencari perbaikan sederhana, seperti menukar plastik dengan kayu atau bambu. “Tetapi ketika Anda memikirkannya, ini menggantikan satu masalah dengan yang lain”, kata Eckart. “Kayu berasal dari pohon, yang perlu ditebang, lalu dikirim ke seluruh dunia. Ini bukan solusi yang lebih berkelanjutan”.
Thomas Geisler, yang mengkurasi paviliun Jerman di London Design Biennale dan memilih Spoon Archaeology, mengatakan salah satu pesan paling kuat dari pameran ini adalah mendorong kita untuk memikirkan masalah dengan cara yang lebih bernuansa. “Kita hidup di masa ketika semua orang menginginkan jawaban sederhana”, katanya. “Tetapi masalah yang kita hadapi ini kompleks dan beragam, sehingga kita membutuhkan solusi yang kompleks juga. Kita perlu mendorong perubahan sistemik, struktural, bukan hanya perbaikan dengan cepat”.

Jadi apa yang bisa menggantikan sendok sekali pakai? Eckhart menyarankan agar kita membayangkan sistem yang sama sekali berbeda. Dalam pameran Spoon Archaeology, ia menghadirkan beberapa film yang menawarkan cara berpikir baru tentang makan. Salah satunya adalah film dokumenter tahun 1972 berjudul Banana Leaf yang dibuat oleh desainer industri Amerika terkenal Ray dan Charles Eames. Film ini mengeksplorasi bagaimana orang-orang dari semua kelas di India Selatan memakan makanan mereka dengan tangan dari daun pisang. “Yang menarik adalah ia melampaui garis kasta”, kata Eckart. “Orang-orang termiskin makan dari daun pisang, tetapi orang-orang dari kasta tertinggi juga makan dari daun pisang”.
Eckhart tidak selalu menyarankan agar kita semua membuang peralatan makan kita, tetapi ia menunjukkan bahwa di banyak budaya, sudah ada banyak solusi untuk melakukan kegiatan makan dengan lebih berkelanjutan, jadi kita bisa menggunakannya sebagai inspirasi untuk membayangkan kembali cara kita makan bersama. Dan sebagai seseorang yang berasal dari Jawa Barat dan yang juga mengenal makan makanan dengan jari dan dari daun pisang, saya sangat merekomendasikan pengalaman ini. Kita akan dapat mengembangkan apresiasi baru terhadap tekstur makanan dengan merasakannya dengan tangan kita, dan ketika selesai, tidak ada piring yang harus dicuci, sehingga kita dapat menjadikan semuanya sebagai bahan kompos.
Gallery Photography is by Heiko Prigge.










