Beberapa pekan lalu, seorang kolega—seorang dosen yang juga seorang ayah—bertanya: “Kamu familiar dengan Victor Papanek?” Pertanyaannya bukan sekadar uji pengetahuan. Di baliknya tersirat kerinduan akan sebuah suara yang pernah mengguncang keyakinannya tentang profesi: suara yang menuntut desain bukan hanya indah, tapi juga adil; bukan hanya fungsional, tapi juga bermoral. Buku yang dulu ia miliki, Design for the Real World, kini telah lenyap dari rak—namun pertanyaannya masih bergema: Apakah desain hari ini masih peduli pada dunia nyata?
Pertanyaan itu membawa kita kembali ke tahun 1971, ketika Victor Papanek, seorang desainer Austria-Amerika yang tak pernah takut menyebut rekan seprofesinya sebagai “pelaku kejahatan terhadap umat manusia”, menerbitkan karyanya yang paling provokatif. Dalam Design for the Real World, ia menulis dengan kemarahan yang penuh kasih:
“Ada profesi yang lebih berbahaya daripada desain—jika dilakukan oleh orang yang tidak kompeten. Tapi tidak ada profesi yang lebih berbahaya jika dilakukan oleh orang yang kompeten namun tidak peduli.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan bagi dunia desain yang kini semakin larut dalam estetika permukaan, algoritma konsumsi, dan siklus rilis produk yang tak pernah berhenti. Di era di mana “user experience” sering diukur hanya lewat waktu tinggal di layar atau tingkat konversi penjualan, Papanek mengingatkan kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: Siapa yang dianggap “user”? Dan siapa yang justru dihapus dari peta desain?
Desain yang Berani Bertanya
Papanek tidak menawarkan metode. Ia menawarkan sikap. Sikap bahwa merancang adalah tindakan politis—karena setiap keputusan desain memilih siapa yang dilayani dan siapa yang diabaikan. Ia mengecam desainer yang sibuk menciptakan mainan plastik sekali pakai untuk anak-anak kelas menengah, sementara jutaan anak di negara berkembang kekurangan alat bantu belajar dasar. Ia menyebut radio berbahan kaleng bekas yang bisa dirakit oleh komunitas buta huruf di India sebagai contoh desain yang sesungguhnya: murah, lokal, dan memberdayakan.
Gagasan ini kini menemukan kelanjutannya dalam karya Ezio Manzini, yang dalam bukunya Design, When Everybody Designs (2015) menyatakan bahwa masa depan desain bukan pada studio elit, tapi pada jaringan kolaboratif warga yang menciptakan solusi dari bawah. Manzini tidak menolak profesionalisme—ia hanya menolak monopoli. Ia percaya bahwa “desain” adalah kapasitas manusia universal, dan peran desainer profesional adalah memfasilitasi, bukan mendikte.
Namun, tidak semua pemikir sepakat. Don Norman, tokoh utama dalam desain berbasis pengguna (user-centered design), justru mengkritik Papanek sebagai “terlalu idealis”. Dalam wawancara tahun 2010, Norman berargumen bahwa desainer harus bekerja dalam sistem yang ada—termasuk pasar—karena hanya di situlah mereka bisa menciptakan dampak skala besar. Tapi di sinilah letak ketegangannya: apakah kita merancang dalam sistem untuk memperbaikinya, atau merancang melawan sistem untuk mengubahnya?
Tony Fry, filsuf desain kontemporer, menawarkan jalan ketiga. Dalam Design Futuring (2009), ia memperkenalkan konsep defuturing: gagasan bahwa banyak desain justru menghancurkan masa depan—melalui eksploitasi sumber daya, limbah elektronik, atau normalisasi konsumsi berlebihan. Bagi Fry, desainer harus menjadi “penjaga masa depan”, yang tidak hanya bertanya “Apa yang bisa saya buat?”, tapi “Apa yang tidak boleh saya buat?”
Mendidik Desainer untuk Berani Mengatakan “Tidak”
Sebagai dosen, pertanyaan yang paling mengganggu mungkin bukan tentang teknik atau tren, melainkan: Apa yang saya ajarkan sebenarnya mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi apa?
Kurikulum desain di banyak perguruan tinggi masih didominasi oleh proyek-proyek yang mensimulasikan permintaan klien korporat: identitas merek, kemasan produk, antarmuka aplikasi. Sedikit sekali ruang untuk bertanya: Apa dampak sosial dari merek ini? Apakah kemasan ini perlu ada? Siapa yang tidak bisa mengakses aplikasi ini?
Padahal, Papanek sudah lama menyerukan agar pendidikan desain menjadi tempat di mana mahasiswa belajar mengkritik sebelum mencipta. Ia membayangkan studio desain bukan sebagai ruang produksi, tapi sebagai laboratorium etika—tempat di mana mahasiswa diajak bekerja langsung dengan nelayan, petani, penyandang disabilitas, atau penghuni rumah susun. Di sanalah mereka belajar bahwa desain bukan soal “menyelesaikan masalah”, tapi soal mendengarkan masalah yang benar-benar dirasakan.
Di Indonesia, benih-benih semangat ini mulai tumbuh. Ada dosen yang mengajak mahasiswanya merancang alat bantu bagi petani garam di Madura; ada tim mahasiswa yang membuat sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas di kampung kota; ada pula yang bekerja sama dengan sekolah inklusif untuk menciptakan media belajar berbasis sensori. Ini adalah wujud nyata dari “desain untuk dunia nyata”—desain yang lahir dari empati, bukan dari brief klien.
Menuju Desain yang Lebih Rendah Hati
Papanek pernah menulis:
“Desainer sejati tidak menciptakan objek. Ia menciptakan kondisi di mana orang bisa menciptakan kehidupan yang layak.”
Kalimat itu mengingatkan kita bahwa desain bukanlah akhir, melainkan sarana. Dan sarana itu harus selalu diuji dengan pertanyaan moral: Apakah ini membantu? Apakah ini adil? Apakah ini berkelanjutan?
Dalam dunia yang semakin kompleks—di mana kecemasan, ketimpangan, dan krisis iklim saling bertaut—desain tidak bisa lagi bersembunyi di balik klaim netralitas. Seperti halnya stoisisme mengajak kita membedakan apa yang bisa dan tidak bisa dikendalikan, Papanek mengajak desainer membedakan antara apa yang bisa dirancang dan apa yang seharusnya dirancang.
Mungkin inilah saatnya kita—para pendidik, praktisi, dan pencinta desain—kembali membuka halaman-halaman yang pernah kita lupakan. Bukan untuk mencari jawaban pasti, tapi untuk menghidupkan kembali keberanian bertanya: Untuk siapa desain ini ada?
Referensi:
- Papanek, V. (1984). Design for the Real World: Human Ecology and Social Responsibility. Academy Chicago Publishers.
- Manzini, E. (2015). Design, When Everybody Designs: An Introduction to Design for Social Innovation. MIT Press.
- Fry, T. (2009). Design Futuring: Sustainability, Ethics and New Practice. Berg Publishers.
- Norman, D. A. (2013). The Design of Everyday Things. Basic Books.
- Margolin, V., & Margolin, S. (2002). “A ‘Social Model’ of Design: Issues of Practice and Research.” Design Issues, 18(4), 24–30.
Foto: It’s Nice That