Beberapa waktu lalu, saya ngobrol dengan seorang teman desainer yang kini sudah pensiun. Saya mengeluh tentang sesuatu yang sudah lama mengganjal: kebanyakan desainer tidak suka menulis, apalagi membuat konten tentang karya-karya mereka atau berbagi keilmuan mereka. Responnya cukup mengejutkan saya.

“Maksudmu jadi desainer kata-kata?”

Kalimat itu langsung mengingatkan saya pada joke yang sudah lama beredar di kalangan desainer—terutama industrial designer. “Kenapa desainer harus menulis? Luaran dari seorang desainer itu kan karya, bukan tulisan. Kalau karya mereka itu tulisan, ya jadinya desainer sastra dong?”

Joke ini lucu, tapi juga menyimpan keyakinan yang mengakar. Dan setelah hampir sepuluh tahun menjalankan Prodesina, saya menyadari bahwa keyakinan ini bukan sekadar keengganan biasa—ini adalah cara banyak desainer memahami identitas profesional mereka.

Menulis Sebagai “Pekerjaan Orang Lain”

Bagi banyak desainer, menulis dianggap sebagai ranah yang terpisah—pekerjaan jurnalis desain, kurator, atau kritikus. Mereka percaya bahwa karya yang baik akan “berbicara sendiri,” dan bahwa menjelaskan karya justru mengurangi kekuatan visual atau fungsionalnya. Ada semacam purisme di sini: desainer yang baik cukup berkarya, bukan berkomentar tentang karyanya sendiri.

Tapi perspektif ini, menurut saya, melewatkan sesuatu yang fundamental. Karya tanpa narasi sering kehilangan lapisan makna yang penting. Proses berpikir, batasan yang dihadapi, keputusan desain yang diambil—semua ini membedakan karya yang sekadar “bagus secara visual” dengan karya yang punya kedalaman. Dan siapa yang paling memenuhi untuk menjelaskan ini kalau bukan desainernya sendiri?

Lebih jauh lagi, di era di mana portofolio online adalah etalase pertama, desainer yang bisa mengartikulasikan pemikirannya punya keunggulan yang signifikan. Personal branding bukan cuma soal pamer karya, tapi membangun narasi konsisten tentang nilai-nilai dan pendekatan desain. Tanpa narasi ini, karya hanyalah sekumpulan gambar ataupun produk yang mudah dilupakan di tengah banjir konten visual.

Preservasi Pemikiran yang Hilang

Sebagai kepala program studi dan dosen Desain Produk di sebuah perguruan tinggi di Jakarta, saya sering melihat bagaimana pengetahuan desain di Indonesia masih sangat bergantung pada tradisi lisan. Mahasiswa belajar dari dosen, dosen belajar dari praktisi, tapi dokumentasi tertulis tentang pemikiran dan proses desain ini sangat minim. Akibatnya, ketika seorang desainer pensiun atau berhenti praktik, pengetahuan mereka ikut menguap.

Ini bukan cuma soal arsip atau sejarah. Ini tentang bagaimana kita membangun diskursus yang matang tentang desain di Indonesia. Tanpa dokumentasi pemikiran, kita terus mengulang diskusi yang sama, tanpa pernah benar-benar maju ke level yang lebih dalam.

Saya sempat berpikir, mungkin desainer mengharapkan ada orang lain yang akan “menemukan” mereka dan mempopulerkan karya mereka. Semacam harapan romantis bahwa talenta yang baik akan selalu dikenali. Tapi di era algoritma dan banjir konten, strategi “karya bagus akan berbicara sendiri” semakin naif. Bahkan desainer sekelas Dieter Rams pun produktif menulis dan mengartikulasikan prinsip-prinsipnya—dan justru itulah yang membuat pemikirannya bertahan melampaui karya fisiknya.

“Saya Tidak Bisa Menulis”

Ketika saya mengajak desainer untuk berkontribusi di Prodesina, respons yang paling sering saya dengar adalah: “Saya tidak bisa menulis.” Ini respons yang defensif, tapi juga jujur. Banyak desainer memang merasa bahwa menulis adalah kemampuan yang tidak mereka miliki.

Padahal, kalau kita lihat lebih dalam, desainer sebenarnya sudah punya kemampuan fondasi yang sangat relevan untuk menulis. Mereka terlatih memecah masalah kompleks, membuat kerangka kerja, dan mengiterasi solusi—tepat yang dibutuhkan untuk menyusun argumen tertulis. Mereka juga ahli dalam storytelling lewat objek; setiap produk yang mereka desain punya narasi. Tinggal diartikulasikan secara verbal.

Namun, di sini terdapat hambatan mental yang menjadi kenyataan: “Aku bukan tipe orang yang nulis” → tidak pernah coba serius → kemampuan tidak berkembang → “Tuh kan, aku emang tidak bisa nulis.” Dan ini terus berulang.

Yang membuat ini semakin ironis adalah: di era AI seperti sekarang, hambatan teknis untuk menulis sudah sangat rendah. Desainer bisa melontarkan pemikiran mentah, lalu minta AI menyusunnya jadi artikel. Mereka bisa ngomong langsung tentang proses desain, transkrip, lalu dipoles jadi tulisan. Bahkan dari poin-poin ide saja, AI bisa kembangkan jadi paragraf yang koheren.

Jadi yang tersisa sekarang cuma willingness—mau atau tidak. Dan di sinilah saya menyadari: ini bukan soal kemampuan, ini soal prioritas dan identitas profesional.

Pengalaman dengan Prodesina

Hampir sepuluh tahun menjalankan Prodesina memberi saya perspektif yang lebih jernih tentang fenomena ini. Awalnya, saya optimis bahwa dengan menyediakan platform, desainer akan berbondong-bondong menulis. Saya pikir yang mereka butuhkan hanya kesempatan dan sedikit dorongan.

Kenyataannya? Seperti yang bisa diduga: akhirnya hampir semuanya saya sendirian yang menulis. Ada beberapa yang akhirnya menulis, tapi cuma sekali, lalu tidak pernah lagi. Mereka seperti memenuhi kewajiban sosial—”Oke, gue udah pernah nulis kok”—lalu kembali ke zona nyaman mereka.

Pola ini konsisten. Yang nulis sekali lalu hilang biasanya karena beberapa hal: tidak ada umpan balik yang memuaskan (tulisan pertama keluar tanpa banyak respons, lalu merasa “oh ternyata segini doang”), menulis belum masuk jadi kebiasaan (ledakan motivasi sekali, tapi tidak jadi rutinitas), atau bahkan setelah coba, malah konfirmasi bahwa “ya udah, gue udah pernah nulis, tapi emang bukan passion gue.”

Dan saya cape juga kalau terus mengajak.

Mengubah Perspektif

Setelah sekian tahun, saya mulai bertanya pada diri sendiri: apakah worth it untuk terus mengajak orang yang jelas-jelas tidak mau? Atau lebih baik fokus ke yang memang sudah menunjukkan keseriusan dalam hal minat?

Karena kalau tujuan saya adalah mempreservasi pemikiran desain dan membangun diskursus yang lebih kaya, mungkin pendekatan yang lebih produktif adalah:

  • Pertama, fokus pada kualitas dan konsistensi konten sendiri sampai menjadi referensi. Daripada media yang rame kontributor tapi kualitasnya campuran, lebih baik media niche dengan voice yang konsisten dan kurasi yang ketat.
  • Kedua, kolaborasi dengan segelintir orang yang memang memiliki komitmen, walau jumlahnya sedikit. Quality over quantity.
  • Ketiga, ubah format. Wawancara desainer, rekam obrolan, lalu saya yang tulis atau edit. Jadi mereka tetap kontribusi pemikiran tanpa harus “menulis” dalam pengertian formal. Dokumentasi lewat cara lain—video obrolan, bahkan live IG yang ditranskrip dan diedit—tetap bisa menjadi cara untuk mempreservasi pemikiran mereka.

Berdamai dengan Kenyataan

Jika dilihat dari sejarah, memang kejadiannya ya begini. Banyak diskursus dan dokumentasi penting digerakkan oleh segelintir orang yang punya niat untuk itu. Yang lain? Mereka tetap jadi praktisi yang bagus, cuma tidak berkontribusi ke catatan tertulis. Dan itu oke-oke saja.

Saya sudah membuka pintu, memberi tangga, bahkan menyediakan lift. Kalau mereka tetap tidak mau naik, ya sudah. Energi saya terbatas, dan saya memilih untuk mengalihkannya ke hal yang lebih produktif: membangun inti utama dari karya itu sendiri, mendokumentasi pemikiran desainer lewat cara yang mereka nyaman, dan menikmati proses ini untuk diri sendiri dulu.

Prodesina akan terus jalan, sebagai portfolio pemikiran saya, katalog referensi untuk komunitas—walau kecil—dan warisan jangka panjang. Tidak perlu rame kontributor kalau kualitasnya terjaga. Dan siapa tahu, suatu hari nanti ini bisa menjadi pekerjaan penuh saya di masa pensiun: media yang self-sustaining, bukan hanya dari sisi tulisan tapi juga pendapatan.

Untuk sekarang, saya sudah berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua desainer akan menulis. Dan itu bukan kegagalan saya, atau kegagalan mereka. Itu hanya pilihan tentang bagaimana seseorang ingin berkontribusi pada profesinya.

Saya memilih lewat kata-kata. Dan ternyata, menjadi “desainer kata-kata” bukan hal yang buruk.

Photo by Lisa from Pexels on Pexels.com