Bayangkan ini: Anda seorang desainer yang diminta merancang dashboard truk. Anda menyiapkan presentasi PowerPoint rapi, menyewa ruang meeting ber-AC, dan mengundang 27 pengemudi truk untuk “sesi konsultasi.” Tiga puluh menit pertama, para pengemudi duduk kaku, menjawab pertanyaan seadanya, terlihat tidak nyaman dengan setting formal ini.

Sekarang bandingkan dengan ini: Anda datang dengan pakaian santai, mengajak mereka ngobrol sambil ngopi di kantin, bertanya dengan bahasa sehari-hari, bukan jargon desain. Tiba-tiba, mereka mulai bercerita panjang lebar tentang dashboard yang mereka butuhkan—detail yang tidak pernah muncul di meeting formal tadi.

Ini bukan cerita fiktif. Ini yang benar-benar terjadi dalam sebuah proyek desain dashboard truk di Prancis.

Saya baru-baru ini membaca penelitian menarik dari tim ITB yang mengkaji puluhan proyek desain partisipatif di berbagai negara—dari perkebunan teh di Sri Lanka, konstruksi rumah di Nigeria, sampai proyek eHealth untuk lansia di Belanda. Temuan mereka mengejutkan: ternyata, kegagalan melibatkan masyarakat dalam desain bukan karena kurangnya metode atau tools, tapi karena kesalahan-kesalahan mendasar yang terus berulang.

Kesalahan #1: Terlalu Formal dan Menciptakan Jarak

Ini kesalahan paling umum dan paling fatal.

Desainer sering terjebak dalam formalitas: meeting room, presentation slides, technical terms, dress code profesional. Tanpa sadar, semua ini menciptakan jarak psikologis antara desainer dan komunitas yang seharusnya mereka libatkan.

Lihat apa yang terjadi di Finlandia. Ketika tim mencoba melibatkan 55 penyewa apartemen multikultural (kebanyakan pensiunan) dalam proyek renovasi, respons awal terhadap survei formal sangat rendah. Mereka khawatir workshop akan sepi.

Solusinya? Mereka mengubah pendekatannya: survei dibuat sangat sederhana, workshop diadakan di malam hari sambil minum kopi bersama, bahkan ada undian tiket film sebagai “thank you gift.” Hasilnya? Partisipasi meningkat drastis.

Atau ambil contoh proyek kurikulum pendidikan di Amerika Serikat yang melibatkan 34 remaja, guru, orangtua, dan administrator sekolah. Masalahnya jelas: power dynamics. Bagaimana membuat remaja berani bicara di hadapan guru dan kepala sekolah?

Taktik mereka sederhana tapi efektif: desainer datang dengan pakaian kasual (bukan jas formal), memanggil semua orang dengan nama depan (bukan gelar), menyediakan snack dan minuman, bahkan membagikan gift card sebagai apresiasi. Pesan yang tersampaikan: “We’re equals here. Your voice matters.”

Ini bukan soal anggaran besar. Ini soal menghapus simbol-simbol hierarki yang membuat orang merasa tidak berhak berbicara.

Kesalahan #2: Menggunakan Pendekatan “One-Size-Fits-All”

Kesalahan kedua: mengira satu metode bisa diterapkan untuk semua komunitas.

Seorang peneliti yang bekerja dengan peternak sapi di Jawa Barat tidak cukup dengan mengadakan workshop atau focus group discussion. Dia tinggal bersama keluarga peternak, bangun jam 4 pagi mengikuti rutinitas mereka, dan menggunakan acara ngaliwet (makan bersama) sebagai momen untuk berbagi ide. Workshop-nya diselaraskan dengan ritme harian komunitas—bukan memaksa mereka datang di waktu yang “convenient” bagi desainer.

Bandingkan dengan proyek di perkebunan teh Sri Lanka. Arsitek menemukan gap besar antara konsep “rumah ideal” menurut mereka versus menurut warga. Solusinya bukan presentasi 3D yang canggih, tapi meminta warga mengingat tempat-tempat familiar, membayangkan rumah impian mereka, lalu membuat diorama sederhana—metode yang cocok dengan cara berpikir visual komunitas tersebut.

Atau kasus di Nigeria, di mana tim ingin memperkenalkan eco-bricks dari botol sebagai material bangunan. Alih-alih “mendidik” warga tentang teknologi baru, mereka mengintegrasikan eco-brick dengan teknik konstruksi tradisional yang sudah dikuasai masyarakat. Inovasinya bukan di metode bangun, tapi di material—jauh lebih mudah diterima.

Pelajaran besarnya: Tidak ada template universal. Anak-anak butuh role-playing dan menggambar. Lansia butuh narasi dengan persona yang relevan, bukan data statistik. Komunitas dengan literasi rendah butuh visual dan storytelling, bukan dokumen tertulis.

Yang menentukan bukan “metode mana yang paling baik,” tapi “metode mana yang paling cocok untuk komunitas ini, saat ini.”

Kesalahan #3: Mengabaikan Power Dynamics dan Heterogenitas

Ini kesalahan paling halus tapi paling merusak.

Dalam sebuah proyek di Swedia yang melibatkan anak muda (16-20 tahun) yang membutuhkan layanan sosial dan para pekerja sosial mereka, ada masalah besar: ketimpangan kekuasaan. Jika kedua kelompok ini dicampur sejak awal, anak muda akan cenderung diam, takut, atau hanya mengatakan apa yang menurut mereka “benar” di mata pekerja sosial.

Solusinya radikal: pisahkan mereka di fase awal. Biarkan masing-masing kelompok membangun ide dan kepercayaan diri dulu, baru kemudian dipertemukan untuk dialog yang lebih setara.

Begitu juga dengan proyek gender equality di lima universitas Eropa. Peserta punya pandangan yang bertentangan tentang isu gender. Jika semua dicampur dalam satu ruangan, yang terjadi adalah debat kusir, bukan kolaborasi produktif. Solusi: kelompokkan berdasarkan perspektif, biarkan masing-masing mengeksplorasi ide mereka, lalu fasilitasi dialog antar-kelompok dengan lebih terstruktur.

Atau proyek di Kolombia yang harus mengkoordinasikan berbagai stakeholder—pemerintah kota, pengusaha, institusi lingkungan, komunitas lokal. Heterogenitas ini bisa jadi kekuatan, tapi juga bisa jadi bencana jika tidak dikelola. Kunci suksesnya sederhana tapi disiplin: jadwal yang ketat dan tidak ada penundaan. Momentum kolaborasi sangat fragile—sekali hilang, sulit dikembalikan.

Mengapa Informalitas Justru Lebih Efektif?

Setelah menganalisis puluhan proyek ini, peneliti dari ITB menarik kesimpulan menarik: yang membedakan proyek yang berhasil dari yang gagal bukan metode formalnya, tapi kemampuan adaptasi dan spontanitas desainer.

Mereka menyebutnya “the art of inclusion”—seni dalam melibatkan orang. Ini bukan sains yang bisa dirumuskan dalam SOP kaku. Ini seni yang butuh kepekaan, empati, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman profesional.

Penelitian ini mengidentifikasi delapan area kompleksitas yang harus dihadapi desainer: dari heterogenitas komunitas, perbedaan usia, isu gender, kesenjangan ekonomi-sosial, konteks lingkungan fisik, tingkat literasi, nuansa budaya, sampai kondisi kesehatan mental dan fisik peserta.

Tapi intinya satu: fleksibilitas.

Desainer yang sukses melibatkan komunitas adalah mereka yang:

  • Tidak terpaku pada metode formal
  • Bisa membaca situasi dan beradaptasi cepat
  • Berani lepas dari “professional persona” dan lebih manusiawi
  • Memahami bahwa membangun kepercayaan lebih penting dari mengikuti prosedur

Seperti yang dikatakan Manzini, desain sejatinya adalah katalisator untuk perubahan sosial. Tapi katalisator tidak bekerja dalam isolasi steril—ia bekerja di tengah kekacauan, ketidakpastian, dan kompleksitas kehidupan nyata.

Pelajaran untuk Diterapkan

Jika Anda seorang desainer—atau siapa pun yang perlu melibatkan komunitas dalam pekerjaan Anda—tiga hal ini patut diingat:

Pertama, lepaskan simbol-simbol hierarki. Kadang yang dibutuhkan bukan ruang meeting, tapi warung kopi. Bukan presentasi PowerPoint, tapi obrolan santai. Bukan dress code formal, tapi sepatu yang dilepas bersama-sama.

Kedua, jangan pernah mengira satu metode cocok untuk semua. Investasikan waktu untuk benar-benar memahami komunitas Anda: siapa mereka, bagaimana mereka berkomunikasi, apa yang membuat mereka nyaman. Metode yang berhasil di komunitas A bisa gagal total di komunitas B.

Ketiga, sadari bahwa power dynamics itu nyata dan harus dikelola secara sadar. Kadang yang dibutuhkan adalah memisahkan kelompok dulu sebelum mempertemukan mereka. Kadang yang dibutuhkan adalah menggunakan bahasa yang benar-benar inklusif. Kadang yang dibutuhkan adalah mengakui dengan jujur posisi privilege Anda sebagai “expert.”

Pada akhirnya, desain partisipatif yang berhasil bukan soal seberapa bagus tools atau metode Anda. Ini soal seberapa baik Anda membangun hubungan yang tulus dengan komunitas—hubungan yang dibangun atas kepercayaan, penghormatan, dan pengakuan bahwa mereka adalah ahli terbaik untuk masalah mereka sendiri.

Dan ya, kadang itu dimulai dari secangkir kopi di warung pinggir jalan.


Tulisan ini didasarkan pada penelitian:

Aulia, W., Santosa, I., Ihsan, M., & Nugraha, A. (2024). The Art of Inclusion: Tactics in Reaching Communities for Participatory Design. Jurnal Desain Indonesia, 7(2), 170-185.

Penelitian ini menggunakan tinjauan literatur sistematis terhadap 14 artikel utama tentang proyek desain partisipatif berbasis komunitas dari database Scopus dan ScienceDirect, ditambah 5 artikel pendukung, mencakup proyek-proyek di Sri Lanka, Nigeria, India, Norwegia, Finlandia, Kolombia, Belanda, Swedia, Prancis, Irlandia, Amerika Serikat, Yunani, Meksiko, dan Indonesia.

Photo by Noval Gani on Pexels.com