Catatan: Tulisan ini merupakan tulisan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang sudut pandangnya diambil dari sisi sebaliknya, yaitu dunia kerja.
Saya pernah duduk di sebuah ruang rapat, menyaksikan presentasi desain yang secara visual nyaris sempurna. Komposisinya rapi, pendekatannya mengikuti tren terkini, dan secara teknis hampir tak ada yang bisa dipersoalkan.
Semua tampak meyakinkan—sampai satu pertanyaan sederhana muncul.
“Kenapa pendekatan ini yang dipilih?”
Desainer yang mempresentasikan terdiam sejenak. Ia mengulang penjelasan visual, menunjuk elemen-elemen desain, dan menyebut referensi estetika. Namun pertanyaan itu sebenarnya tidak meminta apa yang dibuat, melainkan mengapa keputusan itu diambil.
Diskusi pun berhenti bukan karena desainnya buruk, tetapi karena argumen di balik desain tersebut tidak pernah benar-benar dibangun.
Di dunia kerja, momen seperti ini sangat sering terjadi. Dan dari sanalah saya semakin yakin: industri tidak kekurangan desainer yang bisa menghasilkan karya, tetapi sering kekurangan desainer yang bisa berpikir dan menjelaskan pikirannya.
Industri Tidak Bekerja dengan Selera, tetapi dengan Masalah
Di ruang pendidikan, desain kerap dipahami sebagai luaran: produk, visual, prototipe.
Di dunia kerja, desain hampir selalu hadir sebagai jawaban atas masalah.
Masalahnya jarang sederhana. Brief sering kabur. Kebutuhan pengguna berubah. Tekanan bisnis, waktu, dan anggaran datang bersamaan. Desainer dituntut bukan hanya mengeksekusi, tetapi membaca situasi dan merumuskan persoalan.
Richard Buchanan menyebut persoalan desain sebagai wicked problems—masalah yang tidak memiliki definisi tunggal dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan keterampilan teknis. Masalah semacam ini menuntut penalaran, refleksi, dan pengambilan keputusan yang sadar.
Dalam konteks seperti ini, kemampuan menggunakan perangkat lunak hanyalah titik awal. Yang menentukan adalah cara berpikir desainer ketika berhadapan dengan kompleksitas.
Karya yang Tidak Bisa Dijelaskan Akan Selalu Rentan
Di dunia kerja, desain tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu hadir bersama proposal, presentasi, dan diskusi lintas disiplin. Desain harus bisa dibawa masuk ke ruang rapat.
Saya berkali-kali melihat karya desain yang kuat secara visual gugur, bukan karena kualitasnya, melainkan karena pembuatnya tidak mampu:
- menjelaskan relevansinya terhadap tujuan organisasi,
- mengaitkannya dengan kebutuhan pengguna,
- atau menjawab pertanyaan paling mendasar: mengapa solusi ini yang dipilih?
Tim Brown menegaskan bahwa desain yang berhasil di dalam organisasi bukan hanya yang kreatif, tetapi yang dapat dikomunikasikan dan dipahami oleh pemangku kepentingan non-desainer.
Di industri, kepercayaan lahir dari kejelasan berpikir, bukan semata dari estetika.
Desainer Profesional Berpikir Sambil Bekerja
Donald Schön menyebut praktik profesional sebagai reflection-in-action: desainer berpikir sambil bertindak, merefleksikan keputusan yang diambil, lalu menyesuaikan arah berdasarkan konteks yang terus berubah.
Desainer yang matang tidak berhenti pada pertanyaan “apakah ini bagus?”, tetapi terus bertanya:
- apakah solusi ini masih relevan?
- apa konsekuensi dari keputusan ini?
- apa yang perlu direvisi ketika konteks berubah?
Kemampuan reflektif semacam ini tidak muncul tiba-tiba di dunia kerja. Ia perlu dilatih. Salah satu medium paling efektif untuk melatihnya adalah menulis.
Menulis memaksa desainer memperlambat proses, menata ulang pikirannya, dan menyadari bahwa setiap keputusan desain memiliki alasan serta dampak.
Yang Dipersoalkan Bukan Umur Karya, tetapi Cara Desain Diambil
Ketika membicarakan kebutuhan industri, sering muncul anggapan seolah-olah dunia kerja hanya menilai desain dari seberapa lama ia bertahan di pasar. Padahal yang sesungguhnya dipertimbangkan industri bukan semata umur karya, melainkan kualitas keputusan di baliknya.
Industri tidak kekurangan karya desain. Yang justru dihindari adalah karya yang kehilangan relevansi begitu konteks berubah—bukan karena ia memang dirancang untuk bersifat sementara, tetapi karena sejak awal tidak didukung oleh pemikiran yang jernih.
Karya desain yang bermasalah umumnya lahir dari proses yang dangkal:
- masalah tidak dirumuskan dengan jelas,
- keputusan diambil karena mengikuti selera atau tren,
- dan solusi tidak memiliki rasional yang bisa dipertanggungjawabkan.
Perlu diakui bahwa tidak semua industri mengejar umur panjang dalam arti harfiah. Dalam beberapa sektor, keusangan memang direncanakan sebagai strategi—baik secara teknis, visual, maupun simbolik. Namun yang dihindari industri sesungguhnya bukan desain yang berumur pendek, melainkan desain yang tidak memahami mengapa ia dibuat untuk berumur pendek.
Keputusan untuk merancang keusangan tetap merupakan keputusan desain yang menuntut kesadaran, pertimbangan, dan tanggung jawab. Tanpa itu, desain mudah jatuh menjadi sekadar reaksi terhadap pasar, bukan jawaban yang dipikirkan.
Sebaliknya, industri membutuhkan karya desain yang:
- berangkat dari pemahaman masalah yang matang,
- memiliki rasional yang jelas,
- dan mampu bertahan—secara makna—melampaui siklus tren sesaat.
Karya semacam ini selalu bisa diceritakan kembali: mengapa ia dibuat, untuk siapa, dengan pertimbangan apa, dan dengan konsekuensi apa.
Mengapa Industri Menghargai Desainer yang Bisa Menulis
Industri tidak membutuhkan desainer yang mampu menulis jurnal akademik.
Namun industri sangat membutuhkan desainer yang mampu:
- menulis konsep dan rasional desain,
- mendokumentasikan proses pengambilan keputusan,
- serta merefleksikan pembelajaran dari sebuah proyek.
Nigel Cross menyebutnya sebagai designerly ways of knowing: cara berpikir khas desain yang perlu diartikulasikan agar bisa dipahami, dikembangkan, dan diwariskan. Tanpa artikulasi, pengetahuan desain berhenti di kepala individu dan tidak pernah menjadi aset organisasi.
Dalam praktik, desainer yang mampu menulis dan berpikir sistematis:
- lebih cepat dipercaya memimpin proyek,
- lebih siap naik peran dari eksekutor ke pengambil keputusan,
- dan lebih lentur menghadapi perubahan teknologi.
Kampus dan Dunia Kerja: Masalahnya Bukan Menulis, tetapi Tujuannya
Dunia kerja sering mengeluhkan lulusan desain:
“Jago teknis, tapi bingung ketika diminta berpikir.”
Padahal berpikir reflektif dan kritis tidak bisa dipelajari lewat kursus singkat. Ia membutuhkan latihan, kegagalan, dan ruang untuk menjelaskan pikiran sendiri.
Konsep constructive alignment dari Biggs dan Tang menunjukkan bahwa pendidikan yang baik harus menyelaraskan tujuan pembelajaran, proses belajar, dan cara evaluasi. Jika dunia kerja membutuhkan desainer yang mampu berpikir dan memecahkan masalah, maka penulisan di kampus seharusnya:
- menguji cara berpikir,
- merefleksikan proses desain,
- bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif.
Ketika penulisan gagal menjalankan fungsi ini, yang sering disalahkan adalah medianya—padahal yang bermasalah adalah cara kita memaknainya.
Penutup: Karya yang Bertahan Selalu Berangkat dari Pikiran yang Jernih
Industri memang membutuhkan karya.
Namun yang benar-benar dibutuhkan adalah desainer yang tahu apa yang ia kerjakan, dan mengapa ia mengerjakannya.
Karya tanpa pemikiran akan cepat tenggelam.
Karya dengan pemikiran yang jernih akan bertahan, berkembang, dan dipercaya.
Itulah sebabnya, ketika perguruan tinggi melatih mahasiswa desain untuk menulis dan berpikir reflektif, itu bukan karena mereka menjauh dari kebutuhan industri.
Justru sebaliknya.
Itu adalah cara paling jujur untuk menyiapkan desainer agar mampu menghasilkan karya yang tidak hanya selesai dibuat, tetapi juga matang secara pemikiran—bahkan ketika keusangan itu sendiri adalah bagian dari strategi.
Rujukan Singkat
- Schön, D. A. (1983). The Reflective Practitioner.
- Buchanan, R. (1992). “Wicked Problems in Design Thinking.”
- Cross, N. (2006). Designerly Ways of Knowing.
- Brown, T. (2009). Change by Design.
- Biggs, J., & Tang, C. (2011). Teaching for Quality Learning at University.
Photo by Startup Stock Photos on Pexels.com